Kamis, 14 April 2016

LATIHAN KESEIMBANGAN

BALANCE EXERCISE


Latihan keseimbangan adalah latihan khusus yang ditujukan untuk membantu meningkatkan kekuatan otot pada anggota bawah (kaki) dan untuk meningkatkan sistem vestibular/kesimbangan tubuh. Organ yang berperan dalam sistem keseimbangan tubuh adalah 
balance perception. Latihan keseimbangan sangat penting pada lansia (lanjut usia) karena latihan ini sangat membantu mempertahankan tubuhnya agar stabil sehingga mencegah terjatuh yang sering terjadi pada lansia. Setiap tahunnya di Amerika Serikat dilaporkan sekitar 300.000 kasus patah tulang pada hip disebabkan karena terjatuh. Latihan keseimbangan ini sangat berguna untuk memandirikan para lansia agar mengoptimalkan kemampuannya sehingga menghindari dari dampak yang terjadi yang disebabkan karena ketidakmampuannya.
Otak, otot dan tulang bekerja bersama-sama menjaga keseimbangan tubuh agar tetap seimbang dan mencegah terjatuh. Ketiga organ ini merupakan sasaran yang terpenting dan harus dioptimalkan pada latihan keseimbangan, untuk itu program latihan integrasi yang lengkap harus dipersiapkan oleh seorang fisioterapis. Dasar untuk menciptakan program latihan keseimbangan yaitu pada awalnya adalah latihan penguatan kemudian latihan penguatan tersebut dimodifikasikan dengan latihan keseimbangan seperti berdiri dengan satu kaki atau memejamkan mata.
Fisioterapis sangat membantu dalam memepercepat keseluruhan proses dan membantu mendesign program latihan keseimbangan yang terintegrasi sesuai dengan tingkatan level manakah keseimbangan anda.

Latihan keseimbangan dapat dilakukan dirumah dan dapat dilakukan sehari-hari, dimulai dari yang sederhana kemudian dilanjutkan kelevel yang sulit. Dibawah ini beberapa latihan sederhana yg dapat dipraktekkan dirumah :


Untuk Beginer : 
1. Berdiri disamping kursi yang tinggi yang memungkinkan tangan kita untuk memegangnya
2. Gengamlah pegangan kursi tersebut
3. Angkat satu kaki dan pertahankan kesimbangannya ketika berdiri
4. Tahan sampai hitungan kesepuluh
5. Ulangi pada kaki yang lain
6. Lakukan pada setiap kaki 5 kali


Untuk intermediate : 
1. Berdiri disamping kursi yang tingi yang memungkinkan tangan kita untuk memegangnya.
2. Tanpa memegang genggaman kursi tersebut angkatlah satu kaki anda
3. Tahan sampai hitungan kesepuluh
4. Ulangi pada kaki yang lain
5. Lakukan pada setiap kaki 5 kali

Untuk Advance : 

1. Berdiri disamping kursi yang tinggi hanya untuk berjaga-jaga saja
2. Tanpa menggenggam kursi angkatlah kaki anda
3. Kemudian pejamkan kedua mata anda
4. Tahan sampai hitungan kesepuluh
5. Ulangi pada kaki yang lain
6. Lakukan pada setiap kaki 5 kali

CIDERA OTOT PERUT

Cidera Pada Otot Perut

Bila Otot Tertarik Pada Dinding Perut
Apakah cidera otot perut itu?

Cidera otot perut adalah kondisi yang tidak nyaman pada bagian perut dan dapat mengenai satu/lebih dari otot perut. Cidera otot ini umumnya terjadi karena otot perut terulur terlalu jauh atau melebihi normalnya. Kebanyakan cidera otot ini terjadi pada serabut otot perut dan mengakibatkan area perut terasa sangat nyeri. Umumnya, cidera yang terjadi hanya berupa sayatan kecil pada serabut otot, tetapi bila hal ini dibiarkan begitu saja maka hasilnya dari beberapa cidera menyebabkan otot rupture/robek.

Otot pada dinding perut terdiri dari beberapa otot , diantaranya adalah :
o Rectus Abdominis: Otot ini berada di depan dan sering disebut sebagai “six pack” jika terus dilatih.
o Internal and External Oblique: otot ini berada di samping tubuh dan berfungsi untuk gerakaan side rotasion.



Apakah gejala dari cidera otot perut?
Cidera otot perut sering menyebabkan nyeri yang tiba-tiba pada area otot yang mengalami cidera. Dan nyeri akan terprovokasi ketika melakukan gerakan fleksi/menekuk punggung kedepan. Gejala umum yang paling sering adalah ketegangan otot. Kadang-kadang juga terjadi pembengkakan sebagai akibat dari cidera otot yang parah.


Pembagian cidera otot perut berdasarkan derajatnya :
Cidera otot perut dibagi menjadi beberapa grade/derajat berdasarkan keparahan cidera yaitu :
• Grade I (Mild): sedikit tidak nyaman, tidak ada keterbatasan. Biasanya tidak mengganggu aktivitas.
• Grade II (Moderate): Moderate tidak nyaman, aktivitas seperti fleksi atau side rotasi perut agak terganggu.
• Grade III (Severe): aktivitas normal yang melibatkan perut timbul nyeri. Sering pasien mengeluh timbul ketegangan dan bengkak pada perut.


Perawatan apakah yang paling tepat untuk cidera otot perut?Perawatan untuk cidera otot perut tergantung dari derajad keparahannya, tetapi untuk kasus yang umum pada cidera otot perut adalah melakukan pembidaian atau pemasangan splint dan kemudian mengistirahatkan perut secara total dari gerakan-gerakan yang dapat memprovokasi nyeri. Setelah itu hal terpenting yang lain adalah membiarkan otot perut agar selalu rileks sampai proses peradangan berakhir. Kemudian datang  ke departemen fisioterapi untuk mendapatkan pengetahuan tentang cidera yang terjadi dan menghindari latihan tertentu yang dapt menimbulkan cidera untuk mebantu proses pemulihan otot. Meminimalisasi kegiatan yang dapat menimbulkan nyeri atau ketegangan otot.
Penguluran secara gentle sangat membantu, tetapi tidak boleh menimbulkan nyeri. Penguluran maksimal bisa berbahaya dan menghambat proses pemulihan otot. Aplikasikan dengan es batu pada daerah yang mengalami cidera pada fase akut (48 jam pertama setelah terjadi cidera) dapat mengurangi pembengkakan. Sebelum beraktivitas pemanasan ringan bisa membantu otot relaks. (konfirmasikan terlebih dahulu pada fisioterapis anda )

Kapan saya butuh dokter/fisioterapi untuk cidera ini?Jika anda mengalami cidera otot ini evaluasilah dengan gejala yang timbul dan dampak dari gejala tersebut terhadap aktivitas anda seperti jalan ,duduk, atau pada saat tidur, kemudian barulah anda evaluasi lagi kedokter/fisioterapi anda.
Jika anda yakin bahwa anda mengalami cidera pada otot perut anda atau gejala yang timbul tidak cepat hilang dan anda telah mengevaluasinya. Dokter atau fisioterapi dapat membantu anda dalam hal perawatan agar otot anda segera pulih. Beberapa orang melakukannya dengan menggunakan modalitas seperti ultrasound, massage terapi dan latihan khusus untuk membantu pemulihan. Anda harus mendengarkan kata dokter anda jika semuanya ini sesuai dengan kondisi yang anda rasakan.

PAHA DEPAN YANG NYERI

QUADRICEPS MUSCLE STRAIN

Quadriceps adalah kumpulan dari empat otot besar yang terletak dipaha depan dan berfungsi untuk meluruskan lutut dan menekuk hip (panggul). Otot quadriceps terdiri dari m.vastus medialis, m.vastus lateralis, m.vastus intermedius dan m.rectus femoris. Otot quadriceps ini sangat berguna untuk menstabilkan sendi lutut terutama dalam beraktivitas sehari-hari. Cedera dapat terjadi pada semua otot quadriceps tetapi m.rectus femoris adalah otot yang sering mengalami cedera selama beraktivitas/olahraga. Cedera pada otot quadriceps dapat dikategorikan menjadi tiga yaitu (mild : 1, moderate : 2, severe : 3). Pengetahuan tentang derajad cedera ini sangat penting untuk fisioterapi karena sebagai acuan treatment yang akan diberikan pada pasien. Sehingga treatment lebih efektif dan efisien.
Tanda dan Gejala
Untuk tanda dan gejala pada cedera ini sangat tergantung dari derajad cedera yang dialami misalkan untuk derajad 1 pasien hanya merasakan nyeri tetapi tdk mengganggu aktivitas sehari-hari, pembengkakan yang nyaris tidak ada dan lain-lainya..(untuk lengkapnya anda bisa baca dipostingan saya sebelumnya tentang derajad cedera).
Yang paling penting disini adalah Fisioterapi mampu melihat tanda dan gejala yang ada sebagai dasar treatment yang akan diberikan pada pasien.

Fisioterapi
Peran fisioterapi dalam hal ini sangat dibutuhkan terutama dalam hal :
1. Menentukan derajad cedera dari tanda dan gejala yang timbul pada pasien 
2. Mengurangi nyeri sebagai efek strain m. quadriceps (TENS & Interferensi)
3. Mengaplikasikan RICE (Rest, Ice, Compression, Elevation)
4. Mengedukasi pasien tentang penggunaan kruk/cruches/alat bantu bila dibutuhkan.

FISIOTERAPI PADA DISLOKASI BAHU

Jika anda mengalami benturan keras atau cidera pada bahu, kemudian dikuti nyeri yang berkepanjangan kemungkinan anda mengalami dislokasi bahu. Dislokasi pada bahu dapat terjadi jika sendi pada bahu (ball & socket joint) terpisah yaitu bila ball terpisah dari socket maka itu dinamakan dislokasi yang sesungguhnya, tetapi bila ball keluar dari socket dan kembali lagi ketempat semula maka itu dinamakan subluksasi. Baik dislokasi dan subluksasi pada bahu kedua-duanya dapat menyebabkan kerusakan jaringan lunak disekitarnya, untuk itu segeralah ke medis untuk mendapatkan pertolongan lebih lanjut jika nyeri yang anda alami tidak kunjung reda.

Penyebab paling banyak dari dislokasi atau subluksasi adalah benturan yang sangat keras pada bahu baik benturan yang terjadi pada arah samping ataupun arah belakang pada saat melakukan olahraga atletik. Jatuh pada posisi tangan terulur berlebihan juga dapat menyebabkan dislokasi maupun subluksasi. Terkadang seseorang dilahirkan dengan kondisi sendi bahu yang tidak stabil/renggang sehingga membuat potensi dislokasi ataupun subluksasi menjadi lebih besar.
Penanganan Dislokasi/Subluksasi
Jika anda mengalami dislokasi maka dokter akan segera mereposisi bahu anda maksudnya dokter akan mengembalikan posisi bahu anda keposisi semula/posisi anatomis sendi bahu. Dokter akan mendiagnosa dislokasi pada bahu berdasarkan posisi bahu anda, jika pergeseran bahu kedepan maka diagnosanya adalah anterior dislokasi, jika bergesernya kebelakang maka disebut posterior dislokasi dan jika bahu anada tertarik kebawah maka diagnosanya adalah inferior dislokasi. Jika anda mengalami subluksasi maka dokter akan menjelaskan bagian mana yang terdampak mengalami kerusakan misalnya pada otot, tendon ataukah pada ligamentnya. Dokter juga akan melakukan X-ray pada kedua kondisi tersebut untuk memastikan tidak ada patah tulang/keretakan pada tulang lengan atas/humerus.
Setelah semua prosedur diatas dilaksanakan maka pasien dengan dislokasi ataupun subluksasi akan dirujuk pada fisioterapi untuk memperoleh sling/bahu support. Sling berguna untuk meminimalkan gerakan pada bahu. Fisioterapis akan memilihkan ukuran sling berdasarkan ukuran bahu anda, selain itu fisioterapis akan mengajari anda tentang penggunaan sling yang tepat baik cara dan waktunya. Fisioterapis akan mengajari anda pula tentang latihan sederhana untuk menjaga fungsi fisik dari sendi bahu anda.

Peran Fisioterapi
Dalam memberikan pelayanannya, fisioterapi akan mengevaluasi dari awal tentang riwayat dislokasi, seberapakah tingkatan nyerinya, keluhan yang anda alami bahkan riwayat penyakit penyertapun akan dievaluasi fisioterapis untuk menciptakan pelayanan yang aman.
Keluhan yang sering fisioterapis dapatkan adalah :
1. Nyeri
2. Penurunan Luas Gerak Sendi
Hal ini disebabkan karena pasien dengan dislokasi atau subluksasi yang menyebabkan kerusakan jaringan disekitar bahu diwajibkan menggunakan sling untuk proses pemulihan. Penggunaan sling ini berdampak pada ketegangan otot disekitar bahu. Penerapan latihan LGS sangat dianjurkan untuk mengembalikan fungsi sendi bahu seperti sediakala. Penguluran yang gentle juga sangat bermanfaat untuk kasus ini
3.Penurunan Kekuatan Otot
Dalam mengevaluasi kekuatan otot fisioterapis biasanya menggunakan standar MMT (manual muscle testing). Fisioterapis akan menunjukkan dilevel manakah kekuatan otot anda saat itu dengan merujuk pada kriteria yang ada pada MMT disetiap levelnya. Latihan penguatan secara bertahap sangat diperlukan untuk meningkatkan kekuatan otot, bila kekuatan otot disekitar bahu meningkat maka stabilitas sendipun akan terjaga pula. Dalam latihan ini otot-otot triceps maupun biceps juga dilibatkan agar stabilitas sendi segera terbentuk.
4. Posture Tubuh
Karena nyeri dan dislokasi yang terjadi, biasanya pasien lebih cenderung mengkompensasi gerakan yang melibatkan bahu yang dislokasi, akibatnya bila hal ini dilaksanakan terus menerus maka posisi postur tubuh akan terganggu. Latihan correct posture dapat langsung diterapkan oleh fisioterapis untuk menjaga postur tubuh. Buatkanlah design latihan yang cocok pada pasien berdasarkan kebutuhan pasien

PERMASALAHAN PADA ANKLE

SPRAIN ANKLE
 
Gambaran Umum :
Sprain ankle juga dikenal sebagai cidera ankle atau cidera ligament ankle, pada umumnya sprain ankle ini terjdi karena robeknya sebagian dari ligament( torn partial ligament) atau keseluruhan dari ligament (torn ligament) dan hampir 85% kasus sprain ankle ini mengenai ligament talofibular anterior.

Penyebab :
Gerakan yang sering memicu sprain ankle adalah gerakan inversi dan plantar fleksi yang tiba-tiba saat kaki tidak menumpu sempurna pada lantai. 
Kategori :
Sprain ankle terbagi menjadi beberapa derajat sprain sesuai tingkat kerusakan dan pengaruh ligamentnya. Derajat I sprain ankle umumnya terjadi penguluran pada ligamentum talofibular anterior sehingga pasien mengalami nyeri yang ringan dan sedikit bengkak. Sedangkan derajat II dan III sprain ankle, kerobekan parsial dan komplet telah terjadi pada ligamentum lateral compleks ankle (ligamentum talofibular anterior, ligamentum calcaneofibular, ligamentum calcaneocuboideum, ligamentum talocalcaneus dan ligamentum talofibular posterior). Pada derajat II dan III, pasien mengalami nyeri hebat (aktualitas tinggi), bengkak dan penurunan fungsi ankle (gangguan berjalan), sehingga umumnya pasien langsung berobat ke dokter atau fisioterapi untuk mendapatkan terapi.


Penanganan :
Untuk tahap akut selalu menggunakan protokol protection, rest, ice, compresion and elevation atau lebih populer dengan (PRICE), yang kemudian diikuti dengan program exercise untuk memperkuat stabilitas sendi ankle. Penggunaan ankle brace atau ankle support sangat membantu untuk perawatan dan pencegahan sprain ankle. Terkadang karena jalan yang abnormal menyebabkan kerusakan pada jaringan lunak yang lebih parah. Untuk itu pada kasus yang akut berikanlah ankle brace dan kruk (crutches).

Pemberian ice pada kasus sprain ankle akut selama 10-15 menit membantu mengurangi nyeri dan pembengkakan. Tetapi perlu diingat juga pemberian ice yang terlalu lama juga dapat menimbulkan cidera karena efek dingin yang terjadi. Penggunaan bandage yang tepat diperlukan untuk mensupport ligament agar lebih stabil dan menekan ligament yang cidera sehingga menguramgi nyeri dan menstabilkannya. Dalam pemberian bandage ini yang perlu diingat adalah jangan terlalu kencang dan pergunakan metode yang tepat karena pengaplikasian bandage yang terlalu kencang dapat menghambat proses vaskularisasi darah.
Pada kronik sprain ankle, akan terjadi kerusakan struktur jaringan. Seperti pada ligamentum akan terjadi kerobekan, yang dapat merangsang serabut saraf afferen bermyelin tipis (serabut saraf A delta dan tipe C). Impuls tersebut dibawa ke ganglia akar saraf dorsalis dan merangsang produksi “P” substance yang memicu terjadinya reaksi radang. Kemudian impuls tersebut dibawa ke cornu dorsalis medula spinalis dan dikirim ke level SSP yang lebih tinggi melalui traktus spinothalamicus. Pada level SSP yang lebih tinggi (cortex sensorik, hipothalamus & limbik system) impuls tersebut mengalami proses interaksi yang kemungkinan menghasilkan suatu perasaan subyektif yang dikenal dengan persepsi nyeri. Otot juga ikut terulur lalu akan menjadi spasme, timbul abnormal crosslink yang dapat mengganggu system metabolisme dan menimbulkan nyeri. Pada pembuluh darah akan terjadi haemorhage dan dilatasi yang dapat meningkatkan perlepasan zat-zat iritan yang akan meningkatkan sensitivitas nocisensorik sehingga akan menimbulkan nyeri. Sedangkan pada ujung-ujung saraf pada jaringan yang mengalami kerusakan akan mengeluarkan zat-zat iritan berupa prostaglandin, bradikinin dan histamine yang akan merangsang saraf afferent A delta dan C yang dapat meningkatkan sensitivitas nocisensorik sehingga timbul nyeri.

Peran Fisioterapi :
Pemilihan Ultrasound sebagai modalitas utama pada kondisi kronik sprain ankle disarankan, karena efek mekanik dan terapeutik yang dihasilkan oleh Ultrasound berguna untuk proses recovery. Ultrasound merupakan modalitas fisioterapi yang menghasilkan gelombang suara dengan frekeunsi antara 1 – 3 MHz. Ultrasound dapat menghasilkan efek mekanik, termal dan microtissue damage. Pada kondisi klinis pengaplikasian ultrasound dengan intensity 3Mhz dan intensity 1,5 w/cm kwadrat memberikan efek yang bermanfaat untuk perbaikan jaringan lunak.
Bagaimanapun juga exercise atau latihan adalah yang terbaik untuk kasus cidera ligament kronik. Latihan aktive dan active range of motion yang berupa dorsi-fleksi, plantar fleksi, inversi ataupun eversi stabilisasi akan menjaga fleksibilitas dan lingkup gerak sendi. latihan stabilitas juga perlu untuk penguatan otot-otot ankle sehingga dapat membantu serta memperbaiki problem yang muncul akibat instabilitas atau nyeri yang diakibatkan oleh kelemahan otot ankle. Akibat dari latihan stabilisasi, maka otot-otot stabilisator aktif pada ankle dapat memperbaiki kekuatan, ukuran serta mencegah peradangan. Pengaruh dari latihan stabilisasi juga akan meningkatkan peredaran darah pada persendian dan nutrisi tulang disamping karena memperbaiki kekuatan dan fungsi resiko terluka atau cidera kronik pada persendian. Latihan stabilisasi juga memperbaiki system peredaran darah oleh adanya pumping sehingga mengatasi terjadinya pembengkakan yang dapat mengganggu gerak dan fungsi sendi dan mampu mengurangi nyeri pada level sensorik.